Innovation never stop

Just another WordPress.com weblog

Pengirit Bahan Bakar dalam Botol Kecap

Posted by pitrajaya on August 21, 2008

Joko Sutrisno bukan bergelar doktor kimia karena sekolah menengah pertama pun cuma sampai kelas II. Namun, karyanya membuat sebagian orang bisa bernapas lebih lega ketika teror kenaikan harga bahan bakar terus bergema menjelang akhir bulan ini. Ayah tiga anak ini membuat alat sederhana untuk menghemat bahan bakar kendaraan bermotor yang ia sebut electrolyzer.

Peralatan ini cuma butuh botol kecap dari plastik, diisi air, disambungkan ke mesin. Simsalabim: premium atau solar bisa dihemat sampai 50 persen, tergantung kondisi mesin.

Kok, bisa? Inilah ceritanya. Alat tambahan berbahan baku air itu ia klaim mampu menghasilkan ledakan yang membantu penyempurnaan pembakaran mesin. “Sepeda motor dan mobil bisa bergerak karena hasil ledakan itu,” kata Joko. Hasilnya, bahan bakar bisa dihemat.

Kenapa air? Menurut Joko, air punya kandungan peledak yang efektif, yakni hidrogen. Joko memiliki kisah dramatis ketika suatu ketika ia mengecek air aki mobilnya. Karena gelap, ia menyalakan korek api di dekat tutup aki. Tiba-tiba terdengar suara ledakan dan air aki itu muncrat menyembur mukanya.

Rasa penasaran Joko ikut meledak. Masalahnya, bagaimana memisahkan air dengan hidrogen? Ia berburu referensi tentang air dan hidrogen. Joko rajin bertanya kepada kawan-kawannya dan ia berselancar di dunia maya.

Ya, dunia maya. Di Internet, alat serupa yang dibuat Joko memang banyak bertebaran. Alat ini, selain disebut electrolyzer, disebut generator hidrogen. Adapun gas yang dihasilkan diberi nama “HHO” (dari kata hidrogen-hidrogen-oksigen) atau Brown’s Gas karena alat ini ditemukan Yull Brown.

Jika kita mengetikkan kata “hho” atau “brown’s gas” di situs Google, alamat yang muncul akan sangat panjang sekali. Beberapa alamat, seperti water4gas.com, memperlihatkan bagaimana cara membuatnya. Gambarnya tentu berbeda dengan yang dibuat Joko dari Yogyakarta, tapi pada dasarnya sangat mirip.

Sebagian besar situs itu memuji-muji kelebihan alat ini. Dalam website yang desainnya norak itu–dengan warna merah-kuning mencolok dan semua naskah dibuat dalam satu halaman–ditulis potensi bisnis dengan alat ini.

“Biaya membuat tiruan electrolyzer (hydrogen system) bisa hanya US$ 20 (sekitar Rp 200 ribu),” tulis water4gas.com. Itu tentu saja harga di Amerika Serikat. Selain itu, tulis water4gas.com, “Anda bisa meminta bayaran US$ 300 atau lebih jika termasuk pemasangan.”

Tapi tunggu dulu. Saat dicari di Wikipedia, yang isinya biasanya lengkap itu, soal otomotif “sepenting” ini hanya dimuat di entri oxyhydrogen–nama lain Brown’s Gas–itu pun hanya penjelasan empat baris. Dan dari empat baris, salah satu bertulisan, “Banyak di antara klaim ini, sejauh ini, menyalahi hukum kekekalan energi.”

Sejumlah penerbitan bergengsi, seperti Popular Mechanics, Boston Globe, atau Washington Post, juga meragukan hal senada. Popular Mechanics menyebut, kalaupun elektrolisa itu terjadi, energi dari baterai akan terisap dan energi ini didapat dari mesin sehingga beban mesin bertambah berat.

Begitu pula dengan editor otomotif di harian Washington Post. Pat Goss mengatakan, “Tak mungkin ini bisa berjalan.” Alasannya, untuk mendapatkan satu galon gas, dibutuhkan empat galon air. “Tidak ada keajaiban untuk menghemat bahan bakar kecuali Anda sendiri,” kata Goss.

Di Indonesia, Kepala Balai Termodinamika, Motor, dan Propulsi BPPT Dr Prawoto juga mempertanyakan ini. Prawoto mengatakan bisa saja hidrogen dipakai sebagai bahan bakar mesin bensin. Tapi ia mengingatkan, “Kalau elektrolisa air, mesti dihitung antara output dan input.” Ini karena elektrolisa membutuhkan energi yang besar.

Adapun Kepala Laboratorium Motor Bakar dan Sistem Propulsi Departemen Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung Dr Ir Iman K. Resowardojo mengatakan tidak berani berkomentar banyak mengenai klaim Joko. “Saya harus mencobanya dulu,” katanya.

Iman hanya bisa menduga-duga penghemat bensin itu bekerja dengan mengefisienkan pembakaran di ruang mesin. “Hidrogen itu tampaknya bekerja sebagai aditif untuk mempercepat proses pembakaran di ruang mesin,” katanya.

Adapun pengaruh terhadap kinerja mesin tetap harus diuji karena mesin dirancang untuk sifat tertentu. Iman mencontohkan mesin diesel yang ia uji dengan bahan bakar dari minyak jarak. Dengan minyak jarak murni 50 persen, misalnya, mengakibatkan munculnya kerak. “Pemakaian bahan bakar itu menyebabkan performance mesin justru menurun,” katanya.

Meski kontroversial di dunia, peminat alat ini cukup banyak. Setiap hari puluhan sepeda motor dan mobil antre di rumah Joko di Jalan H O.S. Cokroaminoto 76, Yogyakarta, untuk dipasang botol pengirit bahan bakar. Ia cuma memungut bayaran Rp 75 ribu untuk sepeda motor dan Rp 150 ribu untuk motor, sebagai pengganti beli bahan baku dan membayar honor pegawainya. “Saya tidak mau mengambil keuntungan materi,” kata Joko, yang ogah mematenkan karyanya ini.

Tidak semua membeli peralatan. Supriyanto, warga Bogor berusia 42 tahun, datang untuk belajar kepada Joko secara gratis. “Akan saya jadikan pekerjaan sampingan,” kata sopir angkutan kota ini. NURKHOIRI | SYAIFULLAH | ahmad fikri.

Ini (mobil berbahan bakar hidrogen) teknologi yang harus dimiliki untuk masa depan Bumi.” (Presiden Honda Takeo Fukui, NYT, 17/6/2008)

Dalam hal menerapkan teknologi, Jepang tampaknya masih memperlihatkan keunggulan. Menyangkut kendaraan hemat bahan bakar, juga kendaraan dengan bahan bakar baru yang ramah lingkungan, yang lain masih banyak coba-coba dan janji-janji, tetapi Jepang sudah mewujudkannya dalam mobil.

Pengembang blue energy atau brown energy di Indonesia akan terpesona melihat pencapaian perusahaan Jepang, Genepax, yang pertengahan bulan ini memamerkan prototipe kendaraan yang menggunakan sistem bahan bakar air yang disebut Water Energy System (Reuters/ Nikkei Electronics, 13/6).

Kunci pada sistem ini ada pada komponen yang disebut sebagai rakitan elektroda membran atau membrane electrode assembly (MEA) yang mengandung material yang bisa memecah air menjadi hidrogen dan oksigen melalui reaksi kimia. Memang, informasi yang dikeluarkan perusahaan itu tidak lebih jauh lagi karena teknologi ini kini diperebutkan banyak pihak di seluruh dunia. Genepax hanya mengatakan, pihaknya mengadopsi ”proses yang sudah dikenal untuk menghasilkan hidrogen dari air dengan MEA”. Sekarang ini sistem Genepax berharga sekitar 2 juta yen atau 18.700 dollar, atau Rp 170 juta, belum termasuk mobilnya. Namun, dikatakan, kalau teknologi ini bisa diproduksi secara massal, harganya bisa diturunkan hingga di bawah 5.000 dollar atau sekitar Rp 45 juta saja.

Di Osaka Assembly Hall Jepang 12 Juni 2008, Genepax menegaskan bahwa sistem bisa membangkitkan tenaga hanya dengan memberinya air dan udara.

Mekanisme dasar pembangkitan tenaga sistem Genepax ini serupa dengan sel bahan bakar normal, yang menggunakan hidrogen sebagai bahan bakar. Dari apa yang disampaikan Hirasawa Kiyoshi, Presiden Genepax, orang menduga bahwa proses menghasilkan hidrogen melalui MEA diperkirakan serupa dengan mekanisme menghasilkan hidrogen dengan reaksi hidrida logam dan air. Namun, dibandingkan dengan metode yang ada sekarang ini, proses baru Genepax bisa menghasilkan hidrogen dari air untuk jangka lama.

Dengan proses baru ini, sel hanya membutuhkan air dan udara, menghilangkan kebutuhan akan pembentuk (reformer) hidrogen dan tangki hidrogen tekanan tinggi. Lebih jauh lagi, MEA tidak membutuhkan katalis khusus, dan jumlah logam jarang seperti platinum yang dibutuhkan hampir sama dengan sistem yang ada sekarang.

Tidak seperti Direct Methanol Fuel Cell (DMFC) yang menggunakan metanol sebagai bahan bakar, sistem Genepax tidak memancarkan gas karbon dioksida (CO2). Karena prototipe ini baru berumur setahun lebih sedikit, perusahaan masih mengumpulkan data untuk menguji kala hidupnya.

Emisi nol

Selang empat hari setelah pengumuman karya Genepax, produsen mobil Jepang lainnya, Honda, 16 Juni lalu, mengumumkan, pihaknya telah memproduksi mobil berbahan bakar hidrogen yang memancarkan emisi nol. Mobil langsung dikirim ke California Selatan, di mana Hollywood sudah sangat mendambakan kendaraan yang ramah lingkungan atau yang juga dikenal dengan istilah green motoring (AP, 16/6; NYT/17/6, IHT, 18/6)

Mobil tipe FCX Clarity yang bisa melaju dengan bahan bakar hidrogen dan listrik ini hanya mengemisi air. Mobil ini juga dari sisi energi dua kali lebih efisien dibandingkan dengan hibrida bensin-listrik dan tiga kali dibandingkan mobil bertenaga bensin standar.

Produsen mobil ketiga terbesar Jepang ini berharap bisa menyewakan beberapa lusin mobil baru ini pada tahun 2008 dan sekitar 200 unit dalam tiga tahun ke depan. Di California, tarif sewa untuk masa tiga tahun adalah 600 dollar AS per bulan, termasuk untuk pemeliharaan dan jaminan kalau terjadi tabrakan. Di antara pemakai pertama mobil ini adalah aktris Jamie Lee Curtis dan Laura Harris.

FCX Clarity merupakan perbaikan atas kendaraan dengan sel bahan bakar terdahulu, FCX, yang dibuat tahun 2005.

Mobil FCX Clarity punya jelajah sekitar 530 km, dengan konsumsi hidrogen setara hampir 22 km per liter. Kecepatan kendaraan seberat 1.600 kg ini bisa mencapai 160 km per jam.

Kendala terbesar bagi penyebaran kendaraan dengan sel bahan bakar ini adalah harga dan problem stasiun bahan bakar hidrogen. Untuk peluncuran Clarity di California, Honda sudah menerima 50.000 lamaran melalui website-nya, tetapi yang bisa dipertimbangkan hanya mereka yang tinggal di dekat stasiun-stasiun hidrogen.

Gubernur California Arnold Schwarzenegger sudah menyerukan pembangunan jaringan stasiun hidrogen di seluruh negara bagian, tetapi sebegitu jauh kemajuannya masih lamban.

Perlu tekad

Di sini, inisiatif energi biru atau energi coklat menjadi wacana seru dan di sana-sini diwarnai perdebatan, bahkan kontroversi. Jelas bahwa introduksi teknologi baru perlu diaudit atau diuji kesahihan ilmiahnya karena inilah cara untuk mendapatkan pengakuan atau paten.

Namun, ide untuk berinovasi dan menghasilkan terobosan tetap perlu didorong.

Mengingat transportasi merupakan penyumbang gas rumah kaca terbesar, masuk akal kalau sektor ini perlu melakukan upaya ekstra keras untuk menghadirkan alternatif. Kalau memang mungkin menyediakan kendaraan bertenaga non-BBM, dalam hal ini bertenaga listrik atau sel hidrogen, inilah yang semestinya kita tuju.

Dewasa ini produsen utama mobil dunia sudah menanamkan dana besar untuk sel bahan bakar dan kendaraan berbahan bakar alternatif. Pabrikan Jepang sudah memelopori pembuatan mobil jenis ini. Penjualannya ada yang sukses, ada pula yang kurang sukses. Namun, jelas upaya itu dilandasi pertimbangan penyelamatan lingkungan.

source : http://forum.lareosing.org

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: