Innovation never stop

Just another WordPress.com weblog

TEKNOLOGI COMMON RAIL PADA MOBIL DIESEL

Posted by pitrajaya on August 29, 2008

Asap dari Knalpot Tak Lagi Pekat

SIAPA sih yang tak kesal kalau tiba-tiba saja tersambar kepulan asap hitam pekat yang tebal dan berbau tajam saat berkendara di jalan raya. Apalagi jika kepluan asap itu sampai menutupi pandangan di depan kendaraan. Pasti, Anda segera mengeluarkan sumpah serapah dan umpatan. Biasanya orang yang paham menambahkan celetukan, “Dasar mobil diesel!”

Memang mesin diesel yang berbahan bakar solar terkenal suka menyemburkan asap hitam dari knalpot. Namun, reputasi itu bakal luntur. Para ahli otomotif telah mengembangkan teknologi Common-Rail Direct Injection (CRDI), hasil kerja sama antara Bosch Jerman dengan beberapa pabrik mobil di negara-negara Eropa.

Dibandingkan dengan bensin, solar memiliki kualitas yang lebih rendah. Partikel solar lebih berat sehingga lebih sulit hancur saat proses pembakaran. Itu sebabnya asap sisa pembakaran masih pekat.

Untuk meningkatkan proses penghancuran partikel itulah, teknologi CRDI terebut lahir. Intinya, tekanan solar yang dimasukkan ke ruang bakar ditingkatkan. Caranya, mesin diesel dengan teknologi ini harus dilengkapi pompa injeksi yang bertekanan tinggi. Selain itu harus disertai pula dengan pipa khusus yang kuat.

Disain generasi pertama CRDI dirancang agar mampu memberikan tekanan sampai dengan 1,350 bar atau 20,000 psi. Begitu mesin membutuhkan bahan bakar, solar bertekanan tinggi disemprotkan ke ruang bakar.

Proses pembakaran menjadi jauh lebih cepat dan sempurna. Suhu pembakaran yang lebih tinggi ternyata dapat mengurangi waktu untuk memanaskan catalytic converter. Hasilnya berupa pembakaran yang lebih ramah lingkungan.

Sekarang, teknologi Common-Rail Driect Injection sudah berkembang jauh. Bahkan pabrik mobil Peugeot mengembangkan teknologi yang disebut High Direct Injection (Hdi) yang memadukan ERG (Exhaust Gas Recycling) dan sensor oksigen yang mampu memberikan tekanan bahan bakar sesuai kebutuhan mesin.

Dengan alat tersebut sisa pembakaran didaur ulang kembali ke ruang bakar mesin sehingga tak ada sisa bahan yang terbuang dan hasilnya polusi semakin minim. Bahkan, ERG membuat bahan bakar mesin menjadi jauh lebih irit.

Bayangkan saja mobil dengan kapasitas mesin diesel 2.500 cc sanggup melintasi jarak 20 km hanya dengan bekal satu liter solar. Ini berbeda dengan bahan bakar bensin dengan kapasitas silinder mesin yang sama hanya mampu menempuh jarak sekitar setengahnya.

Itu artinya, teknologi diesel terbaru dapat menghemat pemakaian bahan bakar sampai dengan 20% dibandingkan teknologi mesin diesel lama tahun 1980-an. Sudah begitu torsi yang dihasilkan pun meningkat dua kali lipat pada kecepatan rendah, sedangkan tenaga mengalami peningkatan hampir dua kali lipat.

Sisi menarik lainnya adalah menurunnya gas buang dan juga suara bising ketimbang mesin diesel konvensional. Emisi gas CO2 berkurang 20%, pengeluaran Nox dan CO (karbon monoksida) berkurang 40%. Paling menarik, jumlah partikel hidrokarbon yang terbakar meningkat hampir 50%.

Terpaksa dimodifikasi

Namun, teknologi canggih mesin diesel zaman modern tersebut harus di dukung oleh bahan bakar solar berkualitas tinggi. Solar jelek bakal memampetkan pipa injeksi. Di Indonesia hanya solar jenis Perta-Dex yang cocok. Solar keluaran Pertamina tersebut memiliki level kandungan sulfur yang sangat sesuai untuk mobil diesel yang menggunakan teknologi ini. Sayangnya, harga jual per solar ini Rp 7.500 per liter, jauh lebih mahal daripada harga solar biasa yang cuma Rp 4.300 per liter.

Faktor inilah yang menjadi sumber keluhan kalangan ATPM mobil di Indonesia. Mereka gatal ingin berjualan lebih banyak lagi mobil diesel CRDI , namun spesifikasi bahan bakar itu membuat hasrat mereka terhambat. Ujung-ujungnya, terpaksa banyak mobil diesel bermesin canggih bawaan dari negara asalnya harus dirombak sedikit untuk menyesuaikan dengan kualitas solar Indonesia.

Chevrolet, misalnya, khusus menggandeng General Motors Daewoo Auto Technology dan VM Motori untuk mengembangkan mesin diesel yang sesuai dengan solar biasa untuk Captiva Diesel yang bakal meluncur tahun depan. Tujuannya agar agar pembelinya kelak tak tersedak harga solar. “Penyesuaian ada, tapi tak mengubah total teknologi commonrail,” kata PR Manager PT GM AutoWorld Indonesia Kiki Fajar.

Sourse : http://my-curio.us

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: